Pages

Kamis, 22 Agustus 2013

Nyelekit

Nyelekit
Aku memang orang miskin, aku bukan seseorang yang bergelar yang lulusan S1, S2, dan S lainnya. Ya, tidak apa-apa kalian meremehkan ku. Toh remeh juga kadang nggak terlalu dipedulikan. Hanya ayam-ayamku saja yang biasanya peduli pada remah-remah nasi alias remeh.  
            Hati seorang yang rendah, yang miskin bagi mereka. Aku. 

Mereka anggap hatiku terbuat dari adukan semen dan baja, di gampar dengan kata pahit, di hunjam dengan meriam pun tetap utuh.
            Nyelekit!
            Aku pernah menanyakan kabar, basa-basi lah ke Kakak Kelas. Juli, 20** lalu. Aku masih ingat panjang lebar tuh aku ngetik pesan. Sampai sekarang nggak di bales. Kenapa toh ini orang padahal niatku baik-baik. Ya sudah aku lupakan aja, malu kali berteman denganku.
Skenario yang Tuhan guratkan pada hidupku mungkin memang seperti itu, terkadang aku berpikir bahwa aku menjadi seorang tokoh yang di guratkan takdir oleh-Nya. Kalau di ingat-ingat ya, kebanyakan orang tidak menyukaiku. Bukan suka “Cinta” ya … hehe
Mungkin memang karena aku orang miskin yang tinggal di rumah kecil dan bapaku punya hutang banyak. Jangan suudzon loh Dahlia… Nggak, itu perasaanku saja. Oh ya teman terasanya seperti ini, aku berdiri di samping jalan hendak memakai sandal, ada seorang laki-laki cukup tua melintas dengan santainya tanpa menoleh sedikitpun. Kadang jika aku berdiri di samping jalan beliau tidak jadi melintas, balik arah.
Terkadang aku seperti mereguk bara api dengan paksa, toh aku juga manusia. Aku juga ingin di sapa atau misalnya senyum saja juga itu sudah cukup. Lha ini aku berpapasan dan aku menyapa  nggak pernah di jawab, selalu saja memalingkan wajah.
Aku seperti ada, nyata saat kaum gedongan membutuhkan tenagaku. Aku kerja apa saja ada yang nyuruh bikin tugas makalah aku kerjakan. Sampai aku pernah tuh waktu itu bikin makalah di tulis tangan. Jam 10 malam akudi telpon datang ke rumahnya. “De kerjakan, jam 06 saya berangkat ke kampus,” ya aku nurut saja. Toh aku butuh makan, jajan, lumayan.
Memang berapa dibayarnya?
Satu makalah itu Rp 15.000 (lima belas ribu rupiah), itu aku kerjakan sampai subuh. Nulis 8 lembar polio bikin tangan pegal. Lima menit aku tidur, istirahat kerjain lagi.  Terkadang sampai puluhan lembar toh aku masih dibayar sama.
Sampai sekarang aku paling tidak suka orang yang banyakbacot, janji ini ke itu ke tapi nyatanya NIHIL. Kalau memang nggak janji udah nggak perlu ngomong aku mau di bayar tambahan lagi. Sedih sekali teman, kalau mengingat hal itu.
Tapi jangan disesali aku jadikan pelajaran hidup, bahwa manusia itu gampang berubah. Mungkin memang harta itu bisa membutakan hati seorang manusia. Terkecuali memang satu dari seribu orang kaya yang bener-bener merasa harta itu adalah titipan dari-Nya. Sobat jangan pernah mengeluh, percayalah bahwa Tuhan itu maha segalanya. Baik dib alas baik, jahat mungkin suatu saat nanti hukum karma berlaku bagi orang-orang yang sombong. Bukan mendoakan ya… hehe
Toh Alloh telah mengguratkan jelas bahwa setiap kebaikan dan kejahatan sekecil dan sebesar apapun akan mendapat balasannya pula. Mungkin itu yang dinamakan dengan hukum karma.


0 komentar:

Posting Komentar