Nyelekit
Aku memang orang miskin, aku bukan seseorang
yang bergelar yang lulusan S1, S2, dan S lainnya. Ya, tidak apa-apa kalian
meremehkan ku. Toh remeh juga kadang nggak terlalu
dipedulikan. Hanya ayam-ayamku saja yang biasanya peduli pada remah-remah nasi
alias remeh.
Hati seorang yang rendah, yang miskin bagi mereka. Aku.
Mereka anggap hatiku terbuat dari adukan semen dan baja, di gampar dengan kata pahit, di hunjam dengan meriam pun tetap utuh.
Nyelekit!
Aku pernah menanyakan kabar, basa-basi lah ke Kakak Kelas. Juli, 20** lalu. Aku
masih ingat panjang lebar tuh aku ngetik pesan. Sampai sekarang nggak di bales.
Kenapa toh ini orang padahal niatku baik-baik. Ya sudah aku lupakan aja, malu
kali berteman denganku.
Skenario yang Tuhan guratkan pada hidupku mungkin memang seperti
itu, terkadang aku berpikir bahwa aku menjadi seorang tokoh yang di guratkan
takdir oleh-Nya. Kalau di ingat-ingat ya, kebanyakan orang tidak menyukaiku.
Bukan suka “Cinta” ya … hehe
Mungkin memang karena aku orang miskin yang
tinggal di rumah kecil dan bapaku punya hutang banyak. Jangan suudzon loh
Dahlia… Nggak, itu perasaanku saja. Oh ya teman terasanya seperti ini, aku
berdiri di samping jalan hendak memakai sandal, ada seorang laki-laki cukup tua
melintas dengan santainya tanpa menoleh sedikitpun. Kadang jika aku berdiri di
samping jalan beliau tidak jadi melintas, balik arah.
Terkadang aku seperti mereguk bara api dengan
paksa, toh aku juga manusia. Aku juga ingin di sapa atau misalnya senyum saja
juga itu sudah cukup. Lha ini aku berpapasan dan aku menyapa nggak pernah
di jawab, selalu saja memalingkan wajah.
Aku seperti ada, nyata saat kaum gedongan
membutuhkan tenagaku. Aku kerja apa saja ada yang nyuruh bikin tugas makalah
aku kerjakan. Sampai aku pernah tuh waktu itu bikin makalah di tulis tangan.
Jam 10 malam akudi telpon datang ke rumahnya. “De kerjakan, jam 06 saya berangkat
ke kampus,” ya aku nurut saja. Toh aku butuh makan, jajan, lumayan.
Memang berapa dibayarnya?
Satu makalah itu Rp 15.000 (lima belas ribu
rupiah), itu aku kerjakan sampai subuh. Nulis 8 lembar polio bikin
tangan pegal. Lima menit aku tidur, istirahat kerjain lagi. Terkadang
sampai puluhan lembar toh aku masih dibayar sama.
Sampai sekarang aku paling tidak suka orang yang
banyakbacot, janji ini ke itu ke tapi nyatanya NIHIL. Kalau
memang nggak janji udah nggak perlu ngomong aku mau di bayar tambahan lagi.
Sedih sekali teman, kalau mengingat hal itu.
Tapi jangan disesali aku jadikan pelajaran
hidup, bahwa manusia itu gampang berubah. Mungkin memang harta itu bisa
membutakan hati seorang manusia. Terkecuali memang satu dari seribu orang kaya
yang bener-bener merasa harta itu adalah titipan dari-Nya. Sobat jangan pernah
mengeluh, percayalah bahwa Tuhan itu maha segalanya. Baik dib alas baik, jahat
mungkin suatu saat nanti hukum karma berlaku bagi orang-orang yang sombong.
Bukan mendoakan ya… hehe
Toh Alloh telah mengguratkan jelas bahwa setiap
kebaikan dan kejahatan sekecil dan sebesar apapun akan mendapat balasannya
pula. Mungkin itu yang dinamakan dengan hukum karma.



0 komentar:
Posting Komentar