“Andai
aku punya kakak, bisa berbagi di setiap dada ini terasa sempit. Andai aku punya kakak aku bisa kerjain dia
habis-habisan. Andai aku punya kakak aku pasti selalu menang jika main rebutan.
Andai aku punya kakak, dia pasti bisa main gitar. Andai aku punya kakak, akan
ku siram mukanya jika susah bangun.
Andai aku punya kakak, aku akan minta
hadiah jika aku ulang tahun. Andai aku punya kakak, aku bisa minta jajan
padanya. Andai aku punya kakak, mungkin aku akan minta dia menyeka sudut mataku
saat butir kristal mulai menganak sungai. Andai aku punya kakak, aku akan
berikan sebagian beban di pundakku. Andai aku punya kakak, aku akan masak nasi
goreng yang cabainya super banyak. Andai aku punya kakak, dia bisa membelaku
saat aku di tampar kata pahit. Andai aku punya kakak, aku akan memberitahunya
bahwa aku menyukai orang lain. Andai aku
punya kakak, mungkin dia akan membalut hati ku saat terluka, menempelnya dengan
plester-plester. Andai aku punya kakak, mungkin aku akan memberitahunya aku
sedang jatuh cinta. Andai aku punya kakak, mungkin aku tidak akan sesedih ini. Oh tidak, itu salah. Aku tahu sobat,
ternyata kakak ku adalah diriku sendiri. Aku. “Kamis, 22 Agustus 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar