Pages

Selasa, 13 Agustus 2013

17 Kali Aku Meneguknya

                                               17 Kali Aku Meneguknya 
Aroma dingin mengendus pelan lubang hidungku, mengalir deras bak salju yang menyebar di dada. Ku seret pandangku ke kain warna-warni yang di pasang di selang bibir jalan tiap rumah.
“Negeriku akan bertambah usianya,” lirihku dalam hati.
 Aku mendongak pelan, membanting pandangku ke sapuan biru yang hampir tenggelam. Kabut menggantung indah di kolong - kolong langit. Dingin semakin memeluk erat tubuhku, sesekali aku isi pipiku dengan karbondioksida lalu aku tiup perlahan. Nyaris pipiku menyerupai ikan buntal.
Rumah berbilik di tengah pesawahan yang jauh dari jalan aspal, hanya gemuruh sungai yang terdengar menikam suara mangkuk tukang bakso dari kejauhan. Dua gulung kertas minyak berwarna merah dan putih ku sisipkan di keranjang sayurku.
Ku angkat telapak tanganku, lurus. Mendarat di ujung alis. Aku berdiri tegap memandanginya. Berkibar di sebuah tiang bambu kecil di beranda rumahku. Seteguk semangat berpendar dari kibarannya.
 “Aku bangga dan bersyukur, Tuhan melahirkanku di negeri ini, selamat ulang tahun negeriku, dan kini usiaku seperempat dari usiamu.”

Pun seluruh penghuni negeri ini tidak tahu aku memperingati hari lahir, aku gantungkan doa-doa. Agar kau tetap berpendar dan bergeming dengan gagahnya. Karena, aku bahagia terlahir saat seluruh jiwa tertuju mengenang kelahiranmu. Saat Proklamasi dilantukan di seluruh penjuru negeri ini.

0 komentar:

Posting Komentar