17 Kali Aku Meneguknya
Aroma
dingin mengendus pelan lubang hidungku, mengalir deras bak salju yang menyebar
di dada. Ku seret pandangku ke kain warna-warni yang di pasang di selang bibir
jalan tiap rumah.
Aku mendongak pelan, membanting pandangku ke
sapuan biru yang hampir tenggelam. Kabut menggantung indah di kolong - kolong
langit. Dingin semakin memeluk erat tubuhku, sesekali aku isi pipiku dengan karbondioksida
lalu aku tiup perlahan. Nyaris pipiku menyerupai ikan buntal.
Rumah
berbilik di tengah pesawahan yang jauh dari jalan aspal, hanya gemuruh sungai
yang terdengar menikam suara mangkuk tukang bakso dari kejauhan. Dua gulung
kertas minyak berwarna merah dan putih ku sisipkan di keranjang sayurku.
Ku
angkat telapak tanganku, lurus. Mendarat di ujung alis. Aku berdiri tegap
memandanginya. Berkibar di sebuah tiang bambu kecil di beranda rumahku. Seteguk
semangat berpendar dari kibarannya.
“Aku bangga dan bersyukur, Tuhan melahirkanku
di negeri ini, selamat ulang tahun negeriku, dan kini usiaku seperempat dari
usiamu.”
Pun
seluruh penghuni negeri ini tidak tahu aku memperingati hari lahir, aku
gantungkan doa-doa. Agar kau tetap berpendar dan bergeming dengan gagahnya.
Karena, aku bahagia terlahir saat seluruh jiwa tertuju mengenang kelahiranmu.
Saat Proklamasi dilantukan di seluruh penjuru negeri ini.



0 komentar:
Posting Komentar