Salam, Oktober masih segar dengan
kuncup hijau nya, ya? Jumat, 27 September lalu aku pergi ke Yogyakarta
mengikuti Pelatihan Menulis di Penerbit DIVAPress. Baru pulang Senin sore
sekitar 17.30 an tiba di rumah. Hari ini harus nguli kembali agar bisa makan,
dan nabung lagi. Sebenarnya aku masih ‘balideg’ kata Bu Majikan, memang mataku
terasa berat dan kepalaku sedikit sakit. Belum stabil seperti biasanya.
Waktu tiba di Jogja aku masih
seperti mimpi, hingga aku meyakinkan kalau Jumat pagi sekitar 05.20 an aku
berangkat naik angkutan umum menuju terminal Ciamis untuk berangkat ke Jogja.
Pas tiba di Terminal Giwangan, deg jantung pertama berdegup saat kakiku
menginjak di Terminal Giwangan, Jogja. Ya ampun itu pertama kalinya aku ke
Jogja. Sebenarnya waktu sma dan smp ada karyawisata ke Jogja, tapi aku nggak
pernah ngikut karena ongkosnya mahal, lebih tepatnya nggak punya duit. Tapi Al-hamdulillah
banget di tahun 2013 ini aku bisa mereguk aroma Jogja dengan uang tabungan dari
hasil nguli setelah lulus sekolah.
Oh, iya. Sebenarnya cerita setelah
lulus sekolah sangat panjang. Dulu aku melamar kerja ke perusahaan di Bandung
sebagai Staff Administrasi, aku dapat
panggilan. Tapi aku nggak berangkat kesana, soalnya bapak ku sakit. Butuh kerja
keras sekali saat aku akan mengirimkan lamaran ke Bandung. Ijazahku masih di
sekolah aku masih punya tunggakan. Aku nyaris bergidig kalau mengingat masa
lalu saat aku masu minjem Ijazah ke sekolah untuk di foto kopi lalu
dikembalikan lagi. Aku sudah minta ke TU, katanya aku harus menghadap dulu ke
Pak A, aku cari-cari Pak A dan ketemu. Tetap saja aku nggak berhasil, di suruh
menghadap Kepala Sekolah. Tapi hari itu nggak ada Kepala Sekolah nya jadi aku
putusin balik lagi ke rumah. Rumah ku jauh, aku harus ngirit ongkos naik
angkutan, ya aku jalan kaki menuju rumahku. Sudah hujan dan disana tahu-tahu
pipiku sembab. Esok harinya aku kembali ke sekolah dan bertemu dengan Kepala
Sekolah, kalian tahu aku belum bisa minjem Ijazah untuk di foto kopi dan aku
disuruh menghadap kepada Ketua Yayasan. Tahu, tidak hari itu ketua Yayasan
tidak ada di sekolah dan aku harus menunggu lagi. Hingga akhirnya aku di
pinjemin buat fotokopi.
Aku kerja di rentalan kecil dan ada
4 komputer yang bisa digunakan sebagai
internet. Sebenarnya aku tidak ingin menyebutkan hal itu, tempat kerja yang
disalahgunakan diterjemahkan tidak baik bagi sebagian orang kampung disini. Terkadang
sebelum buka aku suka menangis, dan mereguk semangat kembali. Mungkin kalian
akan bertanya aku masih kerja disana? Ya, saat aku punya tekad ingin menjadi
penulis. Tapi itu hal yang mustahil saat aku tidak punya sarana, minimal
komputer pentimum 2, atau aku punya buku novel yang bisa aku baca. Boro-boro
aku beli novel toh kalau punya uang buat bayar buku adik ku, atau bikin tugas
cetak dokumen, dll. Mungkin dengan menulis aku bisa menghasilkan karya, bukan
mungkin tapi pasti, dan aku akan medapatkan uang banyak buat bayar tunggakan
dan Ijazah yang terendap di sekolah bertahun-tahun.
Sudah dulu, ya. Kepala ku benar-benar sakit. Lain kali aku lanjutkan ceritanya. :)



0 komentar:
Posting Komentar