Aku Gantungkan Mimpi
Selamat
pagi, readers. Hyaaak, kaya ada yang baca saja postingan saya. Kemarin saya
sudah kirim tugas dan persyaratan lainnya untuk mengikuti pelatihan menulis.
Tapi sedikit pesimis, cerpen yang saya buat itu cerpen apa bukan, ya?
Mungkin
pas nanti pelatihan, cerpen ku paling banyak kesalahan soalnya belum paham
bener tentang membuat cerpe. Tapi tetap berusaha bagaimana pun hasilnya nanti,
tanggapan dan koreksi dari rector. Hiyyaak kok jadi deg-degan. Malu, iya!
Seneng juga, iya! Lho? Soalnya bisa bertemu dengan para penulis kece disana,
mungkin hanya saya peserta pemula dan bener-bener belum punya pengalaman dalam
dunia tulis menulis. So, hahaha jangan pantang menyerah atua berkecil hati ya,
De? Iya, siip.
Tapi tetep saja malu, duh pasti
karya-karya cerpen-cerpen yang dijadikan tugas untuk di bahas nanti punya
kakak-kakak dan adik-adik penulis pada jleb. Punya ku? Ha tidak tahu, pokok nya
saya sudah mencoba membuat cerpen bagaimana nanti saja segala kekurangan dan
kesalahan akan di bahas di karantina. Tapi semoga saja cerpen saya gak
buruk-buruk amat, yaa malu soalnya di saksikan dengan 29 penulis kece, hyaaak
aku anak kampung yang punya mimpi tinggi.
Tapi, semangat, tekad dan keberanian
itu adalah senjata yang membuat kaki dan hati ku tetap melangkah dan mengejar
mimpi menjadi seorang penulis. Ya, meskipun itu sudah benar bahwa ibu ku anti
buku apalagi sastra novel, cerpen tidak terlalu paham. Apalagi bapak ku, kapan
ya lihat baca koran nggak pernah paling pergi ke sawah, lihat padi. Udah gitu,
jadi kagak ada yang ngerti tentang dunia cerita. Hmm adik saya, waktu
suruh baca cerpen bilangnya “tidak
mengerti yang aku tuliskan”. Apa memang sulit di pahamai karya cerpen ku atau
memang adik ku gak paham-paham baca cerpen saya? Hmmm
Aku tidak tahu komputer saja aku
tidak punya, aku bisa menulis dan mengetik cerpen jika aku mencuri waktu di
tempat kerja. Aku bisa menggoreskan peluhan
hati lewat jemari. Imajinasi yang mungkin orang lain bisa pahami, ya
berusaha membuta karya terbaik dan disukai pembaca. Aku benar-benar belum
pernah mengikuti pelatihan bahkan menerbitkan karya, jadi aku benar-benar masih
pemula untuk mengenal dunia menjadi penulis. Amiin. Senang sekali kalau ada
yang bilang “Adik Penulis” langsung saja aku mengucap Amiin Ya Rabbal Alamin.
Hehehe mudah-mudahan itu yang selalu aku harapkan. Jika aku sudah menerbitkan
karya novel, pertama tentu saja ucapan syukur pada-Nya. Pada Alloh yang
menghidupkan dan memberikan aku kemampuan yang tidak dimiliki orang lain.
Karya-karyaku ingin laris dan yang pertama aku ingin segera membayar tunggakan
ke sekolah agar bisa mengambil ijazah yang terkubur bertahun-tahun semenjak
saya lulus dari sekoleh tersebut. Malu, iya. Benar-benar malu, bukannya tidak
mau bayar tapi kebutuhan saya masih banyak dan kadang jika diingat kembali
nyaris merobohkan tanggul kesedihan kalau ingat berapa jumpah upahku. Di dalam
hati aku menjerit, penghasilan selama 1 bulan. Dan, jika aku meninggalkan
tempat nguli ku berarti aku meninggalkan mimpiku. Aku selalu yakin bahwa Alloh punya
rencana baik ketika aku menggantungkan mimpi dan doa pada-Nya. Aku yakin Alloh selalu
mengabulkan doa umat-Nya jika itu kebaikan. Dan kita hanya bisa berusaha, berdoa
dan menunggu buah dari menanam harapan akan Alloh kabulkan kepada kita. Amiin, aku
doakan kalian yang membaca ini semoga mimpi-mimpi dan keinginan kecil pun bisa terpenuhi
dan terkabulkan. Jangan pernah memandang orang dengan sebelah mata, tetap semangat
temans.



0 komentar:
Posting Komentar