Pages

Sabtu, 14 September 2013

Aku Gantungkan Mimpi

Aku Gantungkan Mimpi
Selamat pagi, readers. Hyaaak, kaya ada yang baca saja postingan saya. Kemarin saya sudah kirim tugas dan persyaratan lainnya untuk mengikuti pelatihan menulis. Tapi sedikit pesimis, cerpen yang saya buat itu cerpen apa bukan, ya?
Mungkin pas nanti pelatihan, cerpen ku paling banyak kesalahan soalnya belum paham bener tentang membuat cerpe. Tapi tetap berusaha bagaimana pun hasilnya nanti, tanggapan dan koreksi dari rector. Hiyyaak kok jadi deg-degan. Malu, iya! Seneng juga, iya! Lho? Soalnya bisa bertemu dengan para penulis kece disana, mungkin hanya saya peserta pemula dan bener-bener belum punya pengalaman dalam dunia tulis menulis. So, hahaha jangan pantang menyerah atua berkecil hati ya, De? Iya, siip.
            Tapi tetep saja malu, duh pasti karya-karya cerpen-cerpen yang dijadikan tugas untuk di bahas nanti punya kakak-kakak dan adik-adik penulis pada jleb. Punya ku? Ha tidak tahu, pokok nya saya sudah mencoba membuat cerpen bagaimana nanti saja segala kekurangan dan kesalahan akan di bahas di karantina. Tapi semoga saja cerpen saya gak buruk-buruk amat, yaa malu soalnya di saksikan dengan 29 penulis kece, hyaaak aku anak kampung yang punya mimpi tinggi.
            Tapi, semangat, tekad dan keberanian itu adalah senjata yang membuat kaki dan hati ku tetap melangkah dan mengejar mimpi menjadi seorang penulis. Ya, meskipun itu sudah benar bahwa ibu ku anti buku apalagi sastra novel, cerpen tidak terlalu paham. Apalagi bapak ku, kapan ya lihat baca koran nggak pernah paling pergi ke sawah, lihat padi. Udah gitu, jadi kagak ada yang ngerti tentang dunia cerita. Hmm adik saya, waktu suruh  baca cerpen bilangnya “tidak mengerti yang aku tuliskan”. Apa memang sulit di pahamai karya cerpen ku atau memang adik ku gak paham-paham baca cerpen saya? Hmmm

            Aku tidak tahu komputer saja aku tidak punya, aku bisa menulis dan mengetik cerpen jika aku mencuri waktu di tempat kerja. Aku bisa menggoreskan peluhan  hati lewat jemari. Imajinasi yang mungkin orang lain bisa pahami, ya berusaha membuta karya terbaik dan disukai pembaca. Aku benar-benar belum pernah mengikuti pelatihan bahkan menerbitkan karya, jadi aku benar-benar masih pemula untuk mengenal dunia menjadi penulis. Amiin. Senang sekali kalau ada yang bilang “Adik Penulis” langsung saja aku mengucap Amiin Ya Rabbal Alamin. Hehehe mudah-mudahan itu yang selalu aku harapkan. Jika aku sudah menerbitkan karya novel, pertama tentu saja ucapan syukur pada-Nya. Pada Alloh yang menghidupkan dan memberikan aku kemampuan yang tidak dimiliki orang lain. Karya-karyaku ingin laris dan yang pertama aku ingin segera membayar tunggakan ke sekolah agar bisa mengambil ijazah yang terkubur bertahun-tahun semenjak saya lulus dari sekoleh tersebut. Malu, iya. Benar-benar malu, bukannya tidak mau bayar tapi kebutuhan saya masih banyak dan kadang jika diingat kembali nyaris merobohkan tanggul kesedihan kalau ingat berapa jumpah upahku. Di dalam hati aku menjerit, penghasilan selama 1 bulan. Dan, jika aku meninggalkan tempat nguli ku berarti aku meninggalkan mimpiku. Aku selalu yakin bahwa Alloh punya rencana baik ketika aku menggantungkan mimpi dan doa pada-Nya. Aku yakin Alloh selalu mengabulkan doa umat-Nya jika itu kebaikan. Dan kita hanya bisa berusaha, berdoa dan menunggu buah dari menanam harapan akan Alloh kabulkan kepada kita. Amiin, aku doakan kalian yang membaca ini semoga mimpi-mimpi dan keinginan kecil pun bisa terpenuhi dan terkabulkan. Jangan pernah memandang orang dengan sebelah mata, tetap semangat temans. 

0 komentar:

Posting Komentar