“Wahai hati yang telah menua. Aku sering
mendengar kau mendecak. Kau marah? Aku tahu kau bisa menyesap ribuan rasa, dan
tidak bisa terkalahkan oleh siapa pun di dunia ini. Pun sang lidah.
Apa kau punya seribu nyawa? Kau tidak
pernah mati saat mereka menyayat, mengiris, menumbuk sampai kau memar. Aku
ingin melihat wajahmu. Oh, bukan. Aku ingin melihat tubuh telanjangmu yang
mungkin memar. Oh, tidak, bukan hanya memar. Mungkin kau berdarah, bernanah dan
nyaris membusuk. Aku akan menjahit luka-lukamu. Kau tidak perlu menahan tanggul
kesedihan yang nyaris roboh, biarkan sang mata mengalirkan butiran bening yang akan
membanjiri pipi para manusia. Kau tidak perlu membekap sang bibir, biarkan
mereka meraung agar kau tidak bergetir. Aku tidak ingin kau meradang. Kau
terlalu setia. Menjaga rindu yang membeku, biarkan mereka berceceran. Sesak
yang berkelebat biarkan menyeruak, dan biarkan hujaman meledak-ledak. Kau hanya
boleh membungkus rapat tentang satu rahasia, tentang satu rasa, bekaplah disana
seret di sudut tubuhmu yang luas. Tentang satu rasa yang Tuhan anugerahkan pada
anak manusia.
Dear Hati, aku tidak akan pernah
berhenti berdegup. Aku akan selalu menemanimu. Pun saat lentik bulu mata
bertaut, saat mereka terbungkus malam. Aku akan mendenting tanpa henti, kecuali
aku diberhentikan olehNya.
From : Jantung `13102013 @dahlia_sss



0 komentar:
Posting Komentar