Pages

Selasa, 01 Oktober 2013

Aku Terlambat dari Perempuan itu

            Doa itu selalu disakralkan dengan hal kebaikan. Meminta pada-Nya tentang keinginan yang menderap di dada. Ku jaga cinta di pojok hati sampai ku bekap erat, ku tutup jendela ku kunci pintu sampai tak ada celah sedikitpun udara menyusup masuk. Kemarin, ya aku bertemu dengan dia sosok lelaki yang hanya aku kenal lewat jejaring sosial. Aku tahu dia sudah punya pacar, bahkan aku bertemu dengan pacarnya. Memandangi mereka saat aku mencuri waktu istirahat. Dia membangunkan ruh dalam hati yang bertahun-tahun diam di pojok hati yang gelap. Aku berpikir Tuhan yang salah atau aku, saat ruh dalam hati terbangun dan membukakan jendela dan melepaskan kunci hati hanya karena aku bertemu dengan sosok lelaki yang sudah punya penghuni hati. Itu mustahil dan bahkan ditertawakan, tapi sebelumnya aku tidak pernah seperti ini sekedar suka dan tahu lelaki itu punya pacar aku sudah lupa lagi. Kali ini berbeda, aku begitu merindukannya. Aku mengharapkannya dia berkunjung ke rumahku, mengajak aku diskusi dan tak kusentuh lagi air mata di pipiku. Mungkin aku akan bahagia, punya kakak seperti dia.
            Aku tidak ingin mengingkari hati, tak ingin mengingkari cinta, tak ingin menjadi perebut dan penggoda. Aku tidak bergerak, hanya hatiku yang berbicara dengan sorot matanya yang membuat aku ingin berdiam diri bersamanya. Tapi saat aku pulang dia turun dan mengantarku, ada satu akar bunga yang tumbuh dan merebak di dalam dadaku saat aku memandangi wajahnya yang hangat. Andai dia kakakku, tak perlu aku melontarkan keburukan terjadi pada mereka. Aku terlambat dengan perempuan itu yang lebih dulu sampai di depan pagar hatinya.

            Saat mata aku dan dia beradu ada hal yang kutelan dan mendebarkan hati, diamnya tidak seperti sikapnya yang biasa saat berhadapan dengan orang lain. Atau mungkin dia kasihan denganku? Itu lucu, dan mustahil saat aku harus menggantungkan doa agar dia tahu ada namanya yang selalu ku gantungkan di dinding-dinding dadaku. Aku tidak mengerti dengan hal ini yang menimpa hatiku. Saat aku pulang meninggalkan kota itu, aku menitikan air mata dengan suguhan lagu yang membungkus perpisahan itu. Aku seperti meninggalkan kekasih, tapi dia kekasih orang lain. Andai aku lebih dulu mengenalnya dari pada perempuan itu, mungkin saja aku bisa melangkah lagi mendekat pintu pagar hatinya. 

0 komentar:

Posting Komentar