Doa itu selalu disakralkan dengan
hal kebaikan. Meminta pada-Nya tentang keinginan yang menderap di dada. Ku jaga
cinta di pojok hati sampai ku bekap erat, ku tutup jendela ku kunci pintu
sampai tak ada celah sedikitpun udara menyusup masuk. Kemarin, ya aku bertemu
dengan dia sosok lelaki yang hanya aku kenal lewat jejaring sosial. Aku tahu
dia sudah punya pacar, bahkan aku bertemu dengan pacarnya. Memandangi mereka
saat aku mencuri waktu istirahat. Dia membangunkan ruh dalam hati yang
bertahun-tahun diam di pojok hati yang gelap. Aku berpikir Tuhan yang salah
atau aku, saat ruh dalam hati terbangun dan membukakan jendela dan melepaskan
kunci hati hanya karena aku bertemu dengan sosok lelaki yang sudah punya
penghuni hati. Itu mustahil dan bahkan ditertawakan, tapi sebelumnya aku tidak
pernah seperti ini sekedar suka dan tahu lelaki itu punya pacar aku sudah lupa
lagi. Kali ini berbeda, aku begitu merindukannya. Aku mengharapkannya dia
berkunjung ke rumahku, mengajak aku diskusi dan tak kusentuh lagi air mata di
pipiku. Mungkin aku akan bahagia, punya kakak seperti dia.
Aku tidak ingin mengingkari hati,
tak ingin mengingkari cinta, tak ingin menjadi perebut dan penggoda. Aku tidak
bergerak, hanya hatiku yang berbicara dengan sorot matanya yang membuat aku
ingin berdiam diri bersamanya. Tapi saat aku pulang dia turun dan mengantarku,
ada satu akar bunga yang tumbuh dan merebak di dalam dadaku saat aku memandangi
wajahnya yang hangat. Andai dia kakakku, tak perlu aku melontarkan keburukan
terjadi pada mereka. Aku terlambat dengan perempuan itu yang lebih dulu sampai
di depan pagar hatinya.
Saat mata aku dan dia beradu ada hal
yang kutelan dan mendebarkan hati, diamnya tidak seperti sikapnya yang biasa
saat berhadapan dengan orang lain. Atau mungkin dia kasihan denganku? Itu lucu,
dan mustahil saat aku harus menggantungkan doa agar dia tahu ada namanya yang
selalu ku gantungkan di dinding-dinding dadaku. Aku tidak mengerti dengan hal
ini yang menimpa hatiku. Saat aku pulang meninggalkan kota itu, aku menitikan
air mata dengan suguhan lagu yang membungkus perpisahan itu. Aku seperti
meninggalkan kekasih, tapi dia kekasih orang lain. Andai aku lebih dulu
mengenalnya dari pada perempuan itu, mungkin saja aku bisa melangkah lagi mendekat
pintu pagar hatinya.



0 komentar:
Posting Komentar