Pages

Minggu, 13 Oktober 2013

Dear Heart

“Wahai hati yang telah menua. Aku sering mendengar kau mendecak. Kau marah? Aku tahu kau bisa menyesap ribuan rasa, dan tidak bisa terkalahkan oleh siapa pun di dunia ini.  Pun sang lidah.
Apa kau punya seribu nyawa? Kau tidak pernah mati saat mereka menyayat, mengiris, menumbuk sampai kau memar. Aku ingin melihat wajahmu. Oh, bukan. Aku ingin melihat tubuh telanjangmu yang mungkin memar. Oh, tidak, bukan hanya memar. Mungkin kau berdarah, bernanah dan nyaris membusuk. Aku akan menjahit luka-lukamu. Kau tidak perlu menahan tanggul kesedihan yang nyaris roboh, biarkan sang mata mengalirkan butiran bening yang akan membanjiri pipi para manusia. Kau tidak perlu membekap sang bibir, biarkan mereka meraung agar kau tidak bergetir. Aku tidak ingin kau meradang. Kau terlalu setia. Menjaga rindu yang membeku, biarkan mereka berceceran. Sesak yang berkelebat biarkan menyeruak, dan biarkan hujaman meledak-ledak. Kau hanya boleh membungkus rapat tentang satu rahasia, tentang satu rasa, bekaplah disana seret di sudut tubuhmu yang luas. Tentang satu rasa yang Tuhan anugerahkan pada anak manusia.
Dear Hati, aku tidak akan pernah berhenti berdegup. Aku akan selalu menemanimu. Pun saat lentik bulu mata bertaut, saat mereka terbungkus malam. Aku akan mendenting tanpa henti, kecuali aku diberhentikan olehNya. 


From : Jantung `13102013 @dahlia_sss

Selasa, 01 Oktober 2013

Aku Terlambat dari Perempuan itu

            Doa itu selalu disakralkan dengan hal kebaikan. Meminta pada-Nya tentang keinginan yang menderap di dada. Ku jaga cinta di pojok hati sampai ku bekap erat, ku tutup jendela ku kunci pintu sampai tak ada celah sedikitpun udara menyusup masuk. Kemarin, ya aku bertemu dengan dia sosok lelaki yang hanya aku kenal lewat jejaring sosial. Aku tahu dia sudah punya pacar, bahkan aku bertemu dengan pacarnya. Memandangi mereka saat aku mencuri waktu istirahat. Dia membangunkan ruh dalam hati yang bertahun-tahun diam di pojok hati yang gelap. Aku berpikir Tuhan yang salah atau aku, saat ruh dalam hati terbangun dan membukakan jendela dan melepaskan kunci hati hanya karena aku bertemu dengan sosok lelaki yang sudah punya penghuni hati. Itu mustahil dan bahkan ditertawakan, tapi sebelumnya aku tidak pernah seperti ini sekedar suka dan tahu lelaki itu punya pacar aku sudah lupa lagi. Kali ini berbeda, aku begitu merindukannya. Aku mengharapkannya dia berkunjung ke rumahku, mengajak aku diskusi dan tak kusentuh lagi air mata di pipiku. Mungkin aku akan bahagia, punya kakak seperti dia.
            Aku tidak ingin mengingkari hati, tak ingin mengingkari cinta, tak ingin menjadi perebut dan penggoda. Aku tidak bergerak, hanya hatiku yang berbicara dengan sorot matanya yang membuat aku ingin berdiam diri bersamanya. Tapi saat aku pulang dia turun dan mengantarku, ada satu akar bunga yang tumbuh dan merebak di dalam dadaku saat aku memandangi wajahnya yang hangat. Andai dia kakakku, tak perlu aku melontarkan keburukan terjadi pada mereka. Aku terlambat dengan perempuan itu yang lebih dulu sampai di depan pagar hatinya.

            Saat mata aku dan dia beradu ada hal yang kutelan dan mendebarkan hati, diamnya tidak seperti sikapnya yang biasa saat berhadapan dengan orang lain. Atau mungkin dia kasihan denganku? Itu lucu, dan mustahil saat aku harus menggantungkan doa agar dia tahu ada namanya yang selalu ku gantungkan di dinding-dinding dadaku. Aku tidak mengerti dengan hal ini yang menimpa hatiku. Saat aku pulang meninggalkan kota itu, aku menitikan air mata dengan suguhan lagu yang membungkus perpisahan itu. Aku seperti meninggalkan kekasih, tapi dia kekasih orang lain. Andai aku lebih dulu mengenalnya dari pada perempuan itu, mungkin saja aku bisa melangkah lagi mendekat pintu pagar hatinya. 

Apa Ini, ya?

            Salam, Oktober masih segar dengan kuncup hijau nya, ya? Jumat, 27 September lalu aku pergi ke Yogyakarta mengikuti Pelatihan Menulis di Penerbit DIVAPress. Baru pulang Senin sore sekitar 17.30 an tiba di rumah. Hari ini harus nguli kembali agar bisa makan, dan nabung lagi. Sebenarnya aku masih ‘balideg’ kata Bu Majikan, memang mataku terasa berat dan kepalaku sedikit sakit. Belum stabil seperti biasanya.