Pages

Kamis, 19 Januari 2017

Aku Histeris, Ketika ...

Tiga hal yang membuatku histeris.
Tidak akan ada bahagia jika tidak sedih, begitupun sebaliknya. Histeris pun mempunyai alasan keduanya.
Histeris pertama, ketika seorang lelaki melukai perempuan dengan ucapan. Perlu memulihkan luka-luka, meskipun itu hanya lebam di sudut hati sanubari. Gak kebayang kalau melukai dengan tindakan hingga membekas. Menurutku bahasa itu tidak perlu beli, bertutur kata yang lembut dan baik itu tidak susah. Apalagi santun yang tak pernah ternilai. Karena Tuhan menyematkan bunga diri di setiap hati manusia, ya akhlak. Menjaganya, memeliharanya dan tentu menyerbakkan wewangi di setiap orang yang dijumpainya.


Histeris kedua. Ketika bersujud, di saat hati lirih dan pikiran buntu. Tak satupun kusembunyikan segala keluh kesahku, segala hal yang mengetuk-negtuk ulu hati. Bukan lagi mengetuk, tapi menggendor-gendor. Ah, namanya juga hidup. Mimpi-mimpi yang satu persatu terwujud, dan semakin membuatku jatuh cinta padaNya.



Histeris ketiga. Ada yang mencintai dan aku pun mencintainya pula. Datang ke rumah dan meminta pada ayah untuk menggantikannya sebagai lelaki kedua yang menjagaku. Tentu, tak seorang pun akan menyangkal akan hal ini, bukan? Membangun rumah tangga bukan untuk sehari atau dua hari. Perlu berpikir untuk mengambil keputusan menyegerakan menikah. Ah, seharusnya di tebalin kata menikahnya. Terasa biasa saja, namun mungkin beberapa perempuan di seantre jagat raya ini sudah atau mungkin sedang mengalami akan hal yang sama. Ketika perasaan bukan untuk diperjualbelikan.
Masih banyak histeris-histeris lainnya. Lain kali di waktu yang berbeda. 




2 komentar:

Reezumiku mengatakan...

Wah.... yang ketiga bakalan bikin aku benar2 histeris!!!

Unknown mengatakan...

Haha. Mau disegerakan, dan semoga disegerakan. Saling mendoakan, ya, Teh. *pelukjauh

Posting Komentar