Tiga
hal yang membuatku histeris.
Tidak
akan ada bahagia jika tidak sedih, begitupun sebaliknya. Histeris pun mempunyai
alasan keduanya.
Histeris
pertama, ketika seorang lelaki melukai perempuan dengan ucapan. Perlu memulihkan
luka-luka, meskipun itu hanya lebam di sudut hati sanubari. Gak kebayang kalau
melukai dengan tindakan hingga membekas. Menurutku bahasa itu tidak perlu beli,
bertutur kata yang lembut dan baik itu tidak susah. Apalagi santun yang tak pernah
ternilai. Karena Tuhan menyematkan bunga diri di setiap hati manusia, ya
akhlak. Menjaganya, memeliharanya dan tentu menyerbakkan wewangi di setiap
orang yang dijumpainya.
Histeris
kedua. Ketika bersujud, di saat hati lirih dan pikiran buntu. Tak satupun kusembunyikan
segala keluh kesahku, segala hal yang mengetuk-negtuk ulu hati. Bukan lagi
mengetuk, tapi menggendor-gendor. Ah, namanya juga hidup. Mimpi-mimpi yang satu
persatu terwujud, dan semakin membuatku jatuh cinta padaNya.
Histeris
ketiga. Ada yang mencintai dan aku pun mencintainya pula. Datang ke rumah dan
meminta pada ayah untuk menggantikannya sebagai lelaki kedua yang menjagaku.
Tentu, tak seorang pun akan menyangkal akan hal ini, bukan? Membangun rumah
tangga bukan untuk sehari atau dua hari. Perlu berpikir untuk mengambil
keputusan menyegerakan menikah. Ah, seharusnya di tebalin kata menikahnya.
Terasa biasa saja, namun mungkin beberapa perempuan di seantre jagat raya ini
sudah atau mungkin sedang mengalami akan hal yang sama. Ketika perasaan bukan
untuk diperjualbelikan.
Masih banyak histeris-histeris lainnya. Lain kali di waktu yang berbeda.




2 komentar:
Wah.... yang ketiga bakalan bikin aku benar2 histeris!!!
Haha. Mau disegerakan, dan semoga disegerakan. Saling mendoakan, ya, Teh. *pelukjauh
Posting Komentar