Pages

Kamis, 26 Januari 2017

Hari  ke-9. #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge
“Surat untuk Seseorang”
o0o
Apa kabar? Apa yang sedang kau lakukan malam ini? Apa kau baik-baik saja?
Ini kali pertama, doa-doa dalam tulisan basah kurangkai. Doa hari-hariku. Setelah rindu ingin bertemu pada kekasih Tuhan, Ya Nabi. Dengan malu yang berselimut dosa-dosa, kumerayu-rayu padaNya, yang tahu segala isi hatiku.



Aku akan terus belajar tentang hidup, belajar cara mencintai, sebagaimana kedua orangtuaku mencintaiku. Memuliakan siapapun tanpa harus mengenal batas ikatan darah. Itu mungkin yang bisa aku lakukan. Terus belajar seperti itu. Bukankah kita akan saling membutuhkan? Kau lelaki yang akan kutemui setelah ayah. Dan aku, perempuan yang akan kau temui setelah ibumu.

Aku suka minuh teh, sampai hari ini kami selalu dating sebelum kutemui seabrek kerjaan di meja kerja. Dia seperti membisikkan padaku, bahwa kau akan segera datang. Ya, pastinya pada waktu yang Tuhan tentukan. Tapi, itu di luar nalarku. Terkadang feeling dan logika selalu bersaing dalam adu kekuatan. Di antara keduanya berpeluang besar untuk benar, dan berpeluang sedikit saja untuk salah. Aku selalu berusaha untuk berhati-hati. Namun jika feeling tidak terkontrol, bisa saja membunuh logika.

Aku rindu, merindukanmu. Benar, tak bisa kusangkal.
Aku hanya punya cinta kecil yang tulus. Sangat kecil. Ayo kita nyalakan cinta kecil ini, lalu membiarkannya terus menyala hidup. Menempatkan hati satu sama lain, dan kumohon berjanjilah untuk tidak saling mengkhianati. Tentu, jika kau punya niat yang sama.

Mungkin saja di bulan-bulan selanjutnya kita akan bertemu, atau bahkan kita memang sudah bertemu. Tanpa tahu akan takdir masing-masing. Aku di sini selalu berusaha dan akan terus berusaha menjaga diri, dan segala sesuatu kubergantung padaNya.

Kumohon, jaga diri baik-baik. Seluruh dirimu kuserahkan pada hati dan cara berpikirmu. Tentu padaNya dan malaikat-malaikat yang tersenyum dan selalu mendoakan kita. Aku akan mencintaimu sebagaimana Tuhan mencintai kita.

Janji, dalam doa-doa basah. Kelak, aku akan menjadi isterimu dan ibu dari anak-anakmu. Semoga Tuhan meridhai dan menyatukan pertalian takdir kita segera, dengan cara yang baik tanpa melukai seorang pun dan menjadi hadiah untuk keluargaku dan keluargamu juga. Karena yang kunikahi bukan hanya engkau, tapi keluargamu juga.

Bendasari, 26 Januari 2017 23:06 WIB


De chan

Sabtu, 21 Januari 2017

Tanpa Menyebutkan Namanya

         Tanpa menyebutkan namanya, coba ceritakan bagaimana pertemuan pertamamu dengan si dia.

            Pertanyaan keempat ini sebenarnya sulit bagi yang single. Hehe. Tapi tentu setiap orang punya harapan. Mencintai atau sekedar suka sama seseorang adalah hal yang wajar. Apalagi dua insan yang saling mencintai. Lebih bahagia lagi, jika kita tahu dia pun punya rasa yang selaras.

            Tiga tahun yang lalu, dan saya baru sadar tahun 2016. Bahwa dulu tidak terpikirkan sama sekali, saya untuk mengenali dirinya. Bahkan saya tidak tahu namanya, hanya sekedar tahu bahwa dia kerja di salah satu distributor dan dua minggu sekali berkunjung ke tempat kerja saya. Tapi bukan untuk bertemu saya. Pertemuan pertama saya biasa saja, bahkan saya tidak jatuh cinta pada pandangan pertama.



            Hari ini pun, detik ini pun, entahlah! Tuhan akan menuliskan nama-nama kita di satu halaman yang sama atau tidak. Memperbaiki diri, saling melepaskan dan menerima segala ketentuanNya dan juga selalu berusaha sabar, tetap tenangkan hati dan pikiran.  
           

             

Jumat, 20 Januari 2017

Pertalian Takdir

Sebutkan 5 hal yang ingin kamu capai di tahun ini!




Pertama, keadilan. Keadilan pada diri sendiri dalam mengontrol rutinitas. Hingga tidak lupa bahagia. Tidak terbunuh rutinitas. Seimbang antara kerjaan dan ngebolang. Berpetualang!!! Kurangnya suplemen hidup, kurangnya asupan vitamin hidup, yang mengakibatkan setres tak terkontrol. Selalu berusaha memperbaiki diri, dan memperlakukan diri lebih baik lagi. Ya, poin ini sedang berlangsung. 

Kedua, kejelasan. Hal-hal yang samar, hal-hal yang masih diterka-terka oleh hati, semoga bisa terlihat jelas, bisa saya temui di balik pintu bulan-bulan sebelum Desember 2017. Apapun, yang baik untuk hidup saya dariNya.  

Ketiga, Jogja. Semoga tahun ini saya bisa mengunjungi kota Jogjakarta. Selalu rindu saja pada kota Jogja, meskipun tidak ada kenangan romantis di sana. Karena perginya juga sendirian. Hehe.

Keempat, Puasa Senin & Kamis. Disepanjang tahun ini, semoga bisa menjalankannya, tanpa terlewati kecuali dalam alasan yang tidak bisa disangkal. Juga bisa hatam Al-Qur’an.

Kelima, pertalian takdir. Ada yang lebih atas dari hubungan darah, yaitu pertalian takdir. Semoga dipertemukan dengan orang-orang yang saling dalam hal apapun, saling bertukar bahagia, dan tidak memutuskan tali silaturahmi.


Terakhir, kuaminkan segala keinginan kalian. Aamiin Yaa Rabbalalamin. 

Kamis, 19 Januari 2017

Aku Histeris, Ketika ...

Tiga hal yang membuatku histeris.
Tidak akan ada bahagia jika tidak sedih, begitupun sebaliknya. Histeris pun mempunyai alasan keduanya.
Histeris pertama, ketika seorang lelaki melukai perempuan dengan ucapan. Perlu memulihkan luka-luka, meskipun itu hanya lebam di sudut hati sanubari. Gak kebayang kalau melukai dengan tindakan hingga membekas. Menurutku bahasa itu tidak perlu beli, bertutur kata yang lembut dan baik itu tidak susah. Apalagi santun yang tak pernah ternilai. Karena Tuhan menyematkan bunga diri di setiap hati manusia, ya akhlak. Menjaganya, memeliharanya dan tentu menyerbakkan wewangi di setiap orang yang dijumpainya.


Histeris kedua. Ketika bersujud, di saat hati lirih dan pikiran buntu. Tak satupun kusembunyikan segala keluh kesahku, segala hal yang mengetuk-negtuk ulu hati. Bukan lagi mengetuk, tapi menggendor-gendor. Ah, namanya juga hidup. Mimpi-mimpi yang satu persatu terwujud, dan semakin membuatku jatuh cinta padaNya.



Histeris ketiga. Ada yang mencintai dan aku pun mencintainya pula. Datang ke rumah dan meminta pada ayah untuk menggantikannya sebagai lelaki kedua yang menjagaku. Tentu, tak seorang pun akan menyangkal akan hal ini, bukan? Membangun rumah tangga bukan untuk sehari atau dua hari. Perlu berpikir untuk mengambil keputusan menyegerakan menikah. Ah, seharusnya di tebalin kata menikahnya. Terasa biasa saja, namun mungkin beberapa perempuan di seantre jagat raya ini sudah atau mungkin sedang mengalami akan hal yang sama. Ketika perasaan bukan untuk diperjualbelikan.
Masih banyak histeris-histeris lainnya. Lain kali di waktu yang berbeda. 




Rabu, 18 Januari 2017

Lelaki Kedua Setelah Ayah


Tipe kekasih idaman. Tentu dia adalah seseorang yang pengertian. Kakak, sekaligus teman hidup selamanya. Lelaki kedua, setelah Ayah.

Tentu, akan kutemui lelaki setelah Ayah. Jika Tuhan takdirkan hidupku panjang dan bertemu dengan lelaki kedua. Ada takdir Tuhan yang tanganku harus ikut campur di dalamnya, dan ada rencanaku yang kuserahkan pada takdir Tuhan. Semua hal yang terjadi di dalam hidupku, semenjak aku lahir hingga hari ini, adalah hal terbaik. Tidak terkecuali sedikitpun. Wewarna hidup, rerasa yang bermuara di hati, yang membuat diriku semakin berkualitas dan belajar mengerti arti kesabaran. Ibaratnya menggali sumur terus menerus, tentu akan mendatangkan air yang semakin penuh. Tak mudah, hidup di dalam arus. Tapi, yakinlah selalu ada jalan dariNya. Bahkan yang baikpun jika harus berakhir hari ini, akan segera dimulai hal yang lebih baik. Ya, aku percaya.

Kekasih idaman. Semoga dia adalah jantung yang tidak akan pernah berhenti berdetak dan menjelma menjadi sebuah titik di akhir cerita hidupku. Menjadi kakak yang mampu menyadarkan lengahku. Kumohon, jangan pernah mencintaiku apa adanya. Aku ingin tahu keinginanmu, begitupun sebaliknya. Menyatukan segala keinginan kita masing-masing, lalu kita mulai menuliskan cerita hidup kita. Bukan hanya kau yang akan aku nikahi, tapi keluargamu juga.