Hari ke-9. #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge
“Surat
untuk Seseorang”
o0o
Apa
kabar? Apa yang sedang kau lakukan malam ini? Apa kau baik-baik saja?
Ini
kali pertama, doa-doa dalam tulisan basah kurangkai. Doa hari-hariku. Setelah
rindu ingin bertemu pada kekasih Tuhan, Ya Nabi. Dengan malu yang berselimut
dosa-dosa, kumerayu-rayu padaNya, yang tahu segala isi hatiku.
Aku
akan terus belajar tentang hidup, belajar cara mencintai, sebagaimana kedua
orangtuaku mencintaiku. Memuliakan siapapun tanpa harus mengenal batas ikatan
darah. Itu mungkin yang bisa aku lakukan. Terus belajar seperti itu. Bukankah
kita akan saling membutuhkan? Kau lelaki yang akan kutemui setelah ayah. Dan
aku, perempuan yang akan kau temui setelah ibumu.
Aku
suka minuh teh, sampai hari ini kami selalu dating
sebelum kutemui seabrek kerjaan di meja kerja. Dia seperti membisikkan padaku,
bahwa kau akan segera datang. Ya, pastinya pada waktu yang Tuhan tentukan. Tapi,
itu di luar nalarku. Terkadang feeling dan
logika selalu bersaing dalam adu kekuatan. Di antara keduanya berpeluang besar
untuk benar, dan berpeluang sedikit saja untuk salah. Aku selalu berusaha untuk
berhati-hati. Namun jika feeling tidak
terkontrol, bisa saja membunuh logika.
Aku
rindu, merindukanmu. Benar, tak bisa kusangkal.
Aku
hanya punya cinta kecil yang tulus. Sangat kecil. Ayo kita nyalakan cinta kecil
ini, lalu membiarkannya terus menyala hidup. Menempatkan hati satu sama lain,
dan kumohon berjanjilah untuk tidak saling mengkhianati. Tentu, jika kau punya
niat yang sama.
Mungkin
saja di bulan-bulan selanjutnya kita akan bertemu, atau bahkan kita memang
sudah bertemu. Tanpa tahu akan takdir masing-masing. Aku di sini selalu
berusaha dan akan terus berusaha menjaga diri, dan segala sesuatu kubergantung
padaNya.
Kumohon,
jaga diri baik-baik. Seluruh dirimu kuserahkan pada hati dan cara berpikirmu. Tentu
padaNya dan malaikat-malaikat yang tersenyum dan selalu mendoakan kita. Aku
akan mencintaimu sebagaimana Tuhan mencintai kita.
Janji,
dalam doa-doa basah. Kelak, aku akan menjadi isterimu dan ibu dari anak-anakmu.
Semoga Tuhan meridhai dan menyatukan pertalian takdir kita segera, dengan cara
yang baik tanpa melukai seorang pun dan menjadi hadiah untuk keluargaku dan
keluargamu juga. Karena yang kunikahi bukan hanya engkau, tapi keluargamu juga.
Bendasari,
26 Januari 2017 23:06 WIB
De chan









