Pages

Sabtu, 01 November 2014

Revolusi, Judul Novel Terbaik ke-8 [Review]


Judul Novel    : Revolusi
Penulis            : Reza Nufa
Penerbit          : byPASS       
ISBN              : 978-602-1871-54-6


            Minggu pertama bulan Oktober saya membaca kembali novel ini, sebenarnya saya sudah membuat review-nya lalu dikirim langsung kepenulisnya, itu acak-acakan banget. Ini tulisan atau curhatan, mungkin penulisnya berpikir seperti itu. Coba kalau saya bertemu lagi dengan penulisnya pengin menanyakan bagaimana nasib coretan yang saya kirim tahun yang lalu. Kalau masih ada pengin diminta lagi, menyesal malu banget. Hehe.
           Agustus 2013, saya dipinjemin 8 novel dari temen, dua minggu saya diberi waktu untuk membacanya. Tujuh novel sudah saya cicipi. Novel ini mungkin udah pegal, selama dua belas hari belum juga saya sentuh. Saya biasa membaca dari judul terbaik dan... crunch, menarik perhatian!

            Revolusi. Seiring waktu cinta akan berevolusi dan menemukan jalannya. [kover novel].
          Gue menulis... ehm, pakai gue saja biar agak gaul dikit, bro. Gue menulis review ini setelah belajar mengenai dunia tulisan. Dikitlah. Gue menulis sesuai cernaan imajinasi yang berkembang dalam otak gue. Novel ini gue baca yang ketiga kalinya. Pertama kali gue baca sebelum bertemu sama penulisnya langsung. Minggu ini gue tepati janji pada penulisnya buat baca kembali secara anca sama bikin review-nya.
            Revolusi. Membaca kata tersebut otak gue langsung conected. Perang, Biston betularia, jerapah berleher pendek, kecambah, kacang tanah yang berumur seminggu, jamur, dan masih banyak lagi. Judulnya sederhana banget, agak ga*leun.#closeup. Rekomend buat judul emang agak sulit. Penulisnya juga mungkin agak kebingungan dalam menentukan judul novel ini. Gue seret satu judul, ini misal! ‘Kepompong Batavia.’ Penjajah berdasi menjelma menjadi sang malaikat yang menyejahterakan rakyatnya. Menghisap keringat rakyat kemudian menikmati kemewahan yang tak akan berlangsung lama. Novel ini berusaha memperkenalkan dunia politik pada remaja sekaligus memperlihatkan bagaimana keadaan negeri ini.
“Keadaan perpolitikan makin bergejolak setelah beberapa petinggi Polri berhasil diungkap keterlibatannya dalam kasus mafia pajak. KPK yang awalnya diragukan, perlahan mulai mengungkap kasus ini...” Hal.5
            Kurang menarik sekali novel ini diawali dengan paragraf tersebut. Coba kalau memakai prolog yang kalimatnya bisa ngambil dari halaman lain mungkin bisa membuat pembaca lebih penasaran lagi. Jika novel ini rekomend buat remaja, penulis bisa memulai dengan kalimat romantis.
            “Aku sayang kamu,” ujar Dira mendongak perlahan.
            Mata mereka saling beradu. Ucapannya diselimuti rasa cemas seperti menebar senja pada pupil matanya. Irham mengurai senyum. Lalu membiarkan wajah gadis itu tenggelam didadanya, sejenak. #penulisnyangasahpeniti.
            Misal, itu contoh sederhana. Gue ngebayangin andai saja seluruh jajaran pemerintah doyan baca. Novel ini jleb, rekomend banget buat mereka baca. Berani banget penulis angkat tema kayak ginian. Andai buku ini dibaca sama Pak Presiden. Secara tidak langsung menurut gue buku ini tersaji lebih condong kekritikan untuk negeri ini (jajaran pemerintah). Indonesia yang tidak sehat, terlalu banyak lebam yang perlu diobati. Mungkin seperti itu. Tapi sekarang sudah ada Presiden baru, semoga lebih sejahtera, dan keadilan merata. Novel ini tersaji ringan, namun unik. Tema seperti ini bisa saja menjenuhkan para pembaca remaja, namun penulis berhasil menaburkan racikan bumbu yang mampu sedikit menghilangkan rasa jenuh pembaca. Kejenuhan dari novel ini ditemukan dari adegan Pak Herman yang selalu menonton berita. 
            Penulis menghadirkan Dira, si cewek tomboy yang suka ngebut, melanggar aturan lalu lintas masuk jalur busway dan nggak punya SIM. Irham yang mempunyai hati seperti malaikat yang bersembunyi dibalik seragam gagahnya. Hatinya seperti tergerakkan saat pertama kali mengetahui bahwa seseorang yang sering melanggar aturan, seseorang di balik helm hitam, pakai jaket kulit, sepatu Converse adalah seorang gadis cantik yang membuat hatinya tergelitik. Ya, Dira. Fajar yang membuat gue terbayang seperempat watak penulis ada dalam diri Fajar. Tapi kalau Dira, hiaaakkh gue nggak tahu. Ehm, abaikan!
            Polisi vs Demonstran. Bagian ini yang membuat ngilu. Saat keadaan negeri ini semakin kacau hingga memancing rasa nasionalisme para pemuda-pemudi yang berujung meminta agar Presiden turun dari jabatannya. Irham seorang polisi, Fajar seorang demonstran yang juga jatuh cinta pada perempuan yang sama. Huum, Dira! Di mata Fajar, Irham berperan sebagai saingan sekaligus parlemen yang dianggap menentang aksinya. membuatnya tak pantang menyerah melakukan orasi bersama teman-temannya. Penulis berusaha menarik benang merah bagi mereka yang memandang dari sudut berbeda. Jika tidak berpikir jernih maka pikiran kita akan diracuni rasa acuh begitu saja untuk negeri ini. Tidak perduli pada apapun.
“Jika ini memang akhir dari aku, semoga satu waktu nanti kalian tahu. Bahwa aku bukan musuh kalian. Jangan pernah membenciku karena jalan yang kuambil. Karena aku pun menghormati jalan kalian.” Hal.245
            Polisi berdiri melindungi, mengamankan. Demonstran yang kerap muak dengan sikap para penguasa, penjajah berdasi yang hanya mencari untung belaka! Duduk manis dan tidak mengenal rasa sakit, perih di luar sana. Justeru baku hantam yang terjadi antara Polisi dan Demonstran. Intinya hidup itu penuh kesalahpahaman, diam sekalipun terkadang bisa dibenci orang. Sudah melakukan perubahan menjadi lebih baik teruntuk diri sendiri, pun itu hanya sedikit. Itu sudah cukup baik, cukup membantu negeri ini daripada diam sama sekali. Ending novel ini tersaji dengan baik, tokoh Fajar meninggal tidak dengan cara biasa, sehingga Dira dan Irham dapat kembali bersatu tanpa ada yang tersakiti.
            Sekian kakak Penulis, janji saya sudah saya tepati. Hanif nya mana, Kak, katanya mau kirim ke rumah saya. Hehe. Beberapa rekan kerja saya minjem novel ini dan tanggapannya berbeda-beda. “Ceritanya rame banget, De! Kece nggak penulisnya?”  sampai ada yang bilang gitu.
            Terima kasih bagi siapa saja yang telah membaca tulisan ini. Saya akan mengamini doa kalian, apapun itu. “Amiin..”

Ciamis,   Oktober 2014