Judul
Novel : Revolusi
Penulis :
Reza Nufa
Penerbit : byPASS
ISBN : 978-602-1871-54-6
Minggu pertama bulan Oktober saya membaca kembali novel ini,
sebenarnya saya sudah membuat review-nya
lalu dikirim langsung kepenulisnya, itu acak-acakan banget. Ini tulisan atau
curhatan, mungkin penulisnya berpikir seperti itu. Coba kalau saya bertemu lagi
dengan penulisnya pengin menanyakan bagaimana nasib coretan yang saya kirim
tahun yang lalu. Kalau masih ada pengin diminta lagi, menyesal malu banget.
Hehe.
Agustus
2013, saya dipinjemin 8 novel dari temen, dua minggu saya diberi waktu untuk
membacanya. Tujuh novel sudah saya cicipi. Novel ini mungkin udah pegal, selama
dua belas hari belum juga saya sentuh. Saya biasa membaca dari judul terbaik
dan... crunch, menarik perhatian!
Revolusi. Seiring
waktu cinta akan berevolusi dan menemukan jalannya. [kover novel].
Gue menulis... ehm, pakai gue saja biar agak gaul dikit,
bro. Gue menulis review ini setelah
belajar mengenai dunia tulisan. Dikitlah.
Gue menulis sesuai cernaan imajinasi yang berkembang dalam otak gue. Novel ini
gue baca yang ketiga kalinya. Pertama kali gue baca sebelum bertemu sama
penulisnya langsung. Minggu ini gue tepati janji pada penulisnya buat baca kembali
secara anca sama bikin review-nya.
Revolusi. Membaca kata tersebut otak gue langsung conected. Perang, Biston betularia,
jerapah berleher pendek, kecambah, kacang tanah yang berumur seminggu, jamur,
dan masih banyak lagi. Judulnya sederhana banget, agak ga*leun.#closeup. Rekomend buat judul emang agak sulit. Penulisnya juga mungkin agak
kebingungan dalam menentukan judul novel ini. Gue seret satu judul, ini misal! ‘Kepompong
Batavia.’ Penjajah berdasi menjelma menjadi sang malaikat yang menyejahterakan
rakyatnya. Menghisap keringat rakyat kemudian menikmati kemewahan yang tak akan
berlangsung lama. Novel ini berusaha memperkenalkan dunia politik pada remaja sekaligus
memperlihatkan bagaimana keadaan negeri ini.
“Keadaan perpolitikan
makin bergejolak setelah beberapa petinggi Polri berhasil diungkap
keterlibatannya dalam kasus mafia pajak. KPK yang awalnya diragukan, perlahan
mulai mengungkap kasus ini...” Hal.5
Kurang menarik sekali novel ini diawali dengan paragraf tersebut.
Coba kalau memakai prolog yang kalimatnya bisa ngambil dari halaman lain
mungkin bisa membuat pembaca lebih penasaran lagi. Jika novel ini rekomend buat remaja, penulis bisa
memulai dengan kalimat romantis.
“Aku sayang kamu,” ujar Dira mendongak perlahan.
Mata mereka saling beradu. Ucapannya diselimuti rasa cemas seperti
menebar senja pada pupil matanya. Irham mengurai senyum. Lalu membiarkan wajah gadis itu tenggelam didadanya,
sejenak. #penulisnyangasahpeniti.
Misal, itu contoh sederhana. Gue ngebayangin andai
saja seluruh jajaran pemerintah doyan baca. Novel ini jleb, rekomend banget buat mereka baca. Berani
banget penulis angkat tema kayak ginian. Andai buku ini dibaca sama Pak
Presiden. Secara tidak langsung menurut gue buku ini tersaji lebih condong kekritikan
untuk negeri ini (jajaran pemerintah). Indonesia yang tidak sehat, terlalu
banyak lebam yang perlu diobati. Mungkin seperti itu. Tapi sekarang sudah ada
Presiden baru, semoga lebih sejahtera, dan keadilan merata. Novel ini tersaji
ringan, namun unik. Tema seperti ini bisa saja menjenuhkan para pembaca remaja,
namun penulis berhasil menaburkan racikan bumbu yang mampu sedikit menghilangkan
rasa jenuh pembaca. Kejenuhan dari novel ini ditemukan dari adegan Pak Herman
yang selalu menonton berita.
Penulis menghadirkan Dira, si cewek tomboy yang suka ngebut,
melanggar aturan lalu lintas masuk jalur busway dan nggak punya SIM. Irham yang
mempunyai hati seperti malaikat yang bersembunyi dibalik seragam gagahnya. Hatinya
seperti tergerakkan saat pertama kali mengetahui bahwa seseorang yang sering
melanggar aturan, seseorang di balik helm hitam, pakai jaket kulit, sepatu
Converse adalah seorang gadis cantik yang membuat hatinya tergelitik. Ya, Dira.
Fajar yang membuat gue terbayang seperempat watak penulis ada dalam diri Fajar.
Tapi kalau Dira, hiaaakkh gue nggak tahu. Ehm, abaikan!
Polisi vs Demonstran. Bagian ini yang membuat ngilu. Saat keadaan
negeri ini semakin kacau hingga memancing rasa nasionalisme para pemuda-pemudi
yang berujung meminta agar Presiden turun dari jabatannya. Irham seorang
polisi, Fajar seorang demonstran yang juga jatuh cinta pada perempuan yang
sama. Huum, Dira! Di mata Fajar,
Irham berperan sebagai saingan sekaligus parlemen yang dianggap menentang
aksinya. membuatnya tak pantang menyerah melakukan orasi bersama
teman-temannya. Penulis berusaha menarik benang merah bagi mereka yang memandang
dari sudut berbeda. Jika tidak berpikir jernih maka pikiran kita akan diracuni
rasa acuh begitu saja untuk negeri ini. Tidak perduli pada apapun.
“Jika ini memang akhir
dari aku, semoga satu waktu nanti kalian tahu. Bahwa aku bukan musuh kalian.
Jangan pernah membenciku karena jalan yang kuambil. Karena aku pun menghormati
jalan kalian.” Hal.245
Polisi berdiri melindungi, mengamankan. Demonstran yang
kerap muak dengan sikap para penguasa, penjajah berdasi yang hanya mencari
untung belaka! Duduk manis dan tidak mengenal rasa sakit, perih di luar sana.
Justeru baku hantam yang terjadi antara Polisi dan Demonstran. Intinya hidup
itu penuh kesalahpahaman, diam sekalipun terkadang bisa dibenci orang. Sudah
melakukan perubahan menjadi lebih baik teruntuk diri sendiri, pun itu hanya
sedikit. Itu sudah cukup baik, cukup membantu negeri ini daripada diam sama
sekali. Ending novel ini tersaji
dengan baik, tokoh Fajar meninggal tidak dengan cara biasa, sehingga Dira dan
Irham dapat kembali bersatu tanpa ada yang tersakiti.
Sekian kakak Penulis, janji saya sudah saya tepati. Hanif
nya mana, Kak, katanya mau kirim ke rumah saya. Hehe. Beberapa rekan kerja saya
minjem novel ini dan tanggapannya berbeda-beda. “Ceritanya rame banget, De! Kece nggak penulisnya?” sampai ada yang bilang gitu.
Terima kasih bagi siapa saja yang telah membaca tulisan ini.
Saya akan mengamini doa kalian, apapun itu. “Amiin..”
Ciamis, Oktober 2014


